Hati-Hati, Percaya Mitos Seputar Finansial ini Bisa Bikin Kamu Menyesal

Menyusun daftar resolusi menjadi hal yang sering dilakukan orang ketika memasuki tahun baru. Tujuannya tentu untuk mencapai hidup yang lebih baik lagi dari tahun sebelumnya, baik dari aspek kesehatan, percintaan, hingga finansial.

Bicara soal resolusi finansial, menjadi kaya raya dan terbebas dari masalah finansial masih menjadi dambaan banyak orang. Namun dalam proses mencapai resolusi tersebut, masih terdapat banyak mitos yang menyesatkan. Tak jarang pula yang meyakini mitos tersebut sebagai sebuah kebenaran. Padahal, mitos-mitos seputar finansial yang salah itu bisa membuat kamu keliru dalam mengelola uang, apalagi jika kamu belum betul-betul paham akan edukasi financial.

Maka dari itu, sebaiknya kamu tahu dari sekarang mitos menyesatkan apa saja yang masih diyakini banyak orang berikut.

  1. Membeli barang secara kredit bikin boros

Seperti yang diketahui, saat ini semakin banyak alternatif untuk membeli barang secara kredit. Jika dulu kamu hanya bisa kredit barang menggunakan kartu kredit, kini terdapat fasilitas kredit tanpa kartu kredit, seperti melalui Kredivo misalnya. Kemudahan yang ditawarkan oleh pemberi kredit kerap dianggap pemicu borosnya seseorang. Apalagi di tengah popularitas belanja online, fasilitas kredit menjadi solusi yang memudahkan pembayaran.

Memang, kemudahan tersebut bisa membuat banyak orang terlena. Namun, tidak selamanya membeli barang secara kredit bisa bikin boros. Sebab, boros tidaknya seseorang ditentukan oleh kemampuan dia mengelola keuangan dan mengerem nafsu belanja. Justru fasilitas kredit tersebut bisa menurunkan pengeluaran saat belanja, karena perusahaan pemberi kredit tak jarang memberi diskon besar. Selain itu, kamu juga tidak perlu mengeluarkan dana besar dalam satu waktu dan bisa mengalokasikan bujet untuk keperluan lain, sekaligus membangun skor kredit positif. Jika kamu paham dengan edukasi financial dan mengaplikasikannya dalam kehidupan, kamu akan memanfaatkan fasilitas kredit dengan bijak. Dengan demikian, membeli barang secara kredit justru bisa memberi banyak manfaat bukan?

  1. Investasi hanya untuk orang kaya

Menurut seorang wealth manager, kesadaran investasi masyarakat Indonesia masih terbilang rendah dan jauh tertinggal dibandingkan beberapa negara, seperti China. Masih banyak masyarakat yang belum sadar akan pentingnya pengelolaan kekayaan karena kurangnya edukasi finansial. Banyak yang masih mengira investasi adalah produk mahal dan tidak terjangkau oleh masyarakat biasa.

Padahal nyatanya, banyak instrumen investasi yang bisa dijangkau oleh masyarakat menengah. Saat ini kamu bisa berinvestasi di reksadana hanya bermodalkan Rp100 ribu, atau menabung emas di Pegadaian bahkan dengan modal cukup Rp 5 ribu saja!

Investasi pun bukanlah hal yang hanya dapat dilakukan oleh ahli keuangan saja. Dalam instrumen reksadana, terdapat ahli yang dinamakan manajer investasi yang akan mengelola uang yang kamu investasikan. Maka dari itu, kamu yang paham akan edukasi financial sebaiknya mulai mengalokasikan penghasilan dalam instrumen investasi. Meski sedikit-sedikit, lama-lama bisa menjadi bukit!

  1. Menabung pangkal kaya

Memang, menabung bukanlah hal yang salah. Namun, kalimat ini tidak lagi sepenuhnya tepat untuk era sekarang. Menyisihkan dana untuk simpanan memang baik untuk perencanaan keuangan, namun satu hal yang harus diingat, tabungan konvensional tidak lagi menjanjikan. Apalagi uang yang disimpan dalam bentuk tabungan sangat mudah tergerus inflasi.

Sebagai solusi, sebaiknya kamu yang paham edukasi financial mengalokasikan tabungan ke investasi. Sebab, investasi cenderung memberikan imbal hasil lebih besar dibandingkan bunga tabungan. Bagi para milenial, instrumen investasi reksadana bisa menjadi pilihan investasi yang tepat mengingat modal yang dibutuhkan relatif kecil, risiko yang tidak begitu besar, dan mampu mengalahkan laju investasi.

  1. Uang bisa menjamin kebahagiaan

Siapa sih yang tidak mau punya penghasilan besar? Mungkin salah satu resolusi kamu di tahun ini adalah mendapatkan gaji lebih tinggi, karena dengan penghasilan yang besar, hidup pun bisa lebih nyaman. Kamu bisa membeli barang impian seperti rumah, mobil, atau mewujudkan keinginan yang belum sempat terlaksana. Bisa dibilang, jumlah uang yang dimiliki berbanding lurus dengan kebahagiaan seseorang.

Apakah hal tersebut benar? Uang memang bisa membeli kenyamanan, namun tak selamanya bisa membeli kebahagiaan. Mari kita belajar dari kisah tokoh dunia yang bunuh diri karena depresi, seperti vokalis Linkin Park, Chester Bennington atau personel grup Shinee, Jonghyun. Tentunya mereka bukanlah orang-orang yang kekurangan uang, namun mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup karena merasa tidak bahagia.

Sebuah penelitian mengatakan bahwa mereka yang menghabiskan uang untuk orang lain akan merasa lebih bahagia, meskipun mereka sendiri tidak punya begitu banyak uang. Bermimpi untuk punya banyak uang sama sekali tidak salah, namun ingatlah untuk menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan pribadi, sehingga uang yang kamu miliki saat ini bisa membuatmu bahagia.

  1. Mendaftar asuransi hanya buang-buang uang

Masih banyak yang menganggap membeli asuransi sama saja dengan membuang uang percuma. Padahal, pandangan tersebut sebenarnya salah. Apabila kamu memahami edukasi financial dengan baik, membeli asuransi justru bisa mengalihkan risiko keuangan yang muncul kepada pihak ketiga, yaitu perusahaan asuransi.

Misalnya saat mengemudi di jalan dan mobil kamu menabrak mobil lain hingga rusak. Jika kamu punya asuransi kendaraan, perusahaan asuransi lah yang akan menanggung biaya perbaikan mobil-mu, sehingga risiko keuangan yang ditanggung pun lebih ringan. Begitu pula jika kamu sakit dan membutuhkan obat yang menguras biaya. Dengan membeli asuransi kesehatan, biaya berobat dan kerugian akibat produktivitas yang terhenti bisa kamu alihkan ke perusahaan asuransi.

Apalagi kini terdapat model asuransi sekaligus investasi, atau yang dikenal dengan asuransi unit link. Jika kamu menjadi nasabah asuransi unit link, maka kamu tidak hanya mendapatkan perlindungan jiwa, kamu juga punya kesempatan berinvestasi di saham, obligasi, atau pasar uang. Menguntungkan sekali bukan?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *